Pemkab Humbahas Investigasi Dugaan Keracunan yang Melibatkan Puluhan Pelajar dan Guru

Dalam sebuah insiden yang mengejutkan, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, terlibat dalam sebuah skandal dugaan keracunan yang melibatkan puluhan pelajar dan seorang guru. Kejadian tersebut berlangsung pada Rabu, 1 April 2026, saat mereka menikmati makan bergizi gratis (MBG).
Kurangnya Respons dari Pejabat Terkait
Hingga saat ini, Kepala Dinas Pendidikan, Martahan Panjaitan, serta Kepala Sekolah SMP Negeri 016 Nagasaribu, belum memberikan komentar resmi mengenai peristiwa yang menimpa para pelajar tersebut melalui saluran komunikasi WhatsApp.
Situasi serupa juga terjadi dengan Kepala Dinas Kesehatan P2KB, Alexander Gultom. Mantan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara ini justru mengaku tidak memiliki informasi yang relevan mengenai dugaan keracunan yang terjadi setelah makan bergizi gratis MBG.
“Maaf, informasi tentang MBG/SPPG ada pada Kepala Dinas Pendidikan sebagai Ketua Satgas. Mohon maaf, saya tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut,” ungkapnya saat dihubungi melalui WhatsApp.
Proses Penyelidikan yang Sedang Berlangsung
Di sisi lain, kepolisian resort (Polres) Humbang Hasundutan telah memulai penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab dugaan keracunan yang melibatkan puluhan pelajar dan satu guru setelah mereka menyantap makan bergizi gratis di Kecamatan Lintongnihuta pada tanggal yang sama.
Kepala Bagian Humas Polres Humbahas, Bripka Jafar Simanjuntak, menginformasikan bahwa tim dari satuan reserse kriminal telah dikerahkan untuk menyelidiki peristiwa ini secara langsung.
Data Korban Keracunan
Polres Humbahas melaporkan bahwa sebanyak 18 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi tersebut. Di antara mereka terdapat lima pelajar dan satu guru dari SMA Negeri 3 Lintongnihuta. Nama-nama yang terlibat adalah:
- Elisa Simarmata, 17 tahun
- Anisa Tumanggor, 18 tahun
- Suhardi Lumbantoruan, 18 tahun
- Bungaria Lumbantoruan, 16 tahun
- Rini Nababan, 19 tahun
- Melva Sitinjak, guru, 46 tahun
Sementara itu, 12 pelajar lainnya berasal dari SMP Negeri 016 (sebelumnya SMP Negeri 03 Nagasaribu). Beberapa di antara mereka harus mendapatkan perawatan di RSUD Doloksanggul, seperti:
- Messi Lumban Toruan, 11 tahun
- Philip Sianturi, 13 tahun
- Mona Siburian, 14 tahun
- Rere Rivaldo Hutasoit, 14 tahun
- Selviana Purba, 14 tahun
Lima pelajar lainnya mendapatkan perawatan di Puskesmas Lintongnihuta, termasuk:
- Edison Situmorang, 13 tahun
- Reza Nababan, 13 tahun
- Astron Lumban Toruan, 13 tahun
- Ririn Sihombing, 13 tahun
- Riska Pohan, 13 tahun
Di antara mereka, ada dua pelajar yang masih dirawat di RSUD Doloksanggul, yaitu Dame Siregar dan Lince Hutasoit, keduanya berusia 13 tahun. Jafar menambahkan bahwa keduanya kini sudah dapat pulang setelah menjalani perawatan.
Langkah Penyidikan oleh Pihak Berwenang
Pihak kepolisian telah melakukan investigasi di lokasi kejadian dan berusaha mengumpulkan informasi dari berbagai pihak, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Holong Ondolan Nagasaribu, siswa, dan orang tua mereka.
Selain itu, mereka juga telah berkonsultasi dengan ahli gizi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap insiden keracunan ini.
Menunggu Hasil Laboratorium
Jafar menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan medis yang akan dilakukan laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan siswa yang terlibat. “Hasil medis masih dalam proses, dan kami menunggu informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan,” jelasnya.
Selain itu, pihak kepolisian juga menantikan keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk langkah-langkah selanjutnya. “Kami akan menunggu hasil laboratorium dan rekomendasi dari BGN sebelum mengambil tindakan lebih lanjut,” tambahnya.
Gejala Keracunan yang Diderita
Dalam laporan yang beredar, para siswa dan guru yang terlibat mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG). Mereka melaporkan keluhan seperti pusing, lemas, dan sesak napas.
Beberapa pelajar, seperti Lince boru Hutasoit dan Dame Taruli boru Siregar dari SMP Negeri 016 Nagasaribu, menjelaskan bahwa mereka mulai merasakan gejala setelah menerima menu MBG dari SPPG Holong Ondolan yang terletak di Desa Nagasaribu.
Menu Makanan yang Disajikan
Menu yang disajikan pada saat itu terdiri dari nasi putih, sayur, buah-buahan, dan ikan dencis. Namun, tak lama setelah menyantap hidangan tersebut, para pelajar mulai merasakan gejala yang tidak nyaman, seperti:
- Muka berwarna merah
- Kelemahan fisik
- Kesulitan bernapas
“Muka saya berwarna merah, merasa lemas, dan sesak,” ungkap Lince saat diwawancarai di ruang perawatan RSUD Doloksanggul, didampingi oleh ayahnya, Parlindungan Hutasoit.
Hal serupa juga dialami oleh Dame, yang mengungkapkan rasa sesak yang dirasakan di bagian ulu hati setelah menyantap makanan tersebut. “Sesak di sini,” ujarnya sambil menunjukkan bagian perutnya.
Penanganan Awal yang Diterima
Kedua pelajar ini merupakan bagian dari 18 orang yang diduga keracunan, termasuk seorang guru yang sebelumnya mendapatkan penanganan di Puskesmas sebelum dirujuk ke RSUD Doloksanggul. Penanganan medis awal sangat penting untuk memastikan keselamatan para korban.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai pengawasan dan kualitas makanan yang disediakan dalam program makan bergizi gratis di sekolah-sekolah. Masyarakat berharap agar pihak berwenang segera mengatasi masalah ini demi keamanan dan kesehatan pelajar.



